Pakai jalur yang seharusnya

Suatu hari saya naik motor dengan seorang teman. Kami berkendara masuk ke sebuah area perumahan.

Selama berkendara, saya selalu ada di sisi sebelah kiri sesuai jalur berkendara. Ketika masuk area perumahan, teman saya berkata, “Jalan saja di sebelah kanan, tidak apa-apa, kan ini jalan perumahan, sepi, tidak ada orang atau kendaraan yang lalu lalang.”

Saya merespon, “Apa maksudmu?”. Teman saya menimpali sambil tertawa, “Tidak usah terlalu tertib, santai saja, ini bukan jalan raya.”

Peristiwa yang saya ceritakan itu adalah contoh sulitnya menerapkan tertib lalu lintas atau tertib sosial. Tidak mudah untuk menegakkan disiplin, mematuhi aturan, dan menghormati kepentingan publik meski dalam skala yang kecil.

Ketika tidak ada kontrol, diri kita lah sebenarnya yang berperan sebagai pengendali.

Lebih aman menunjuk orang lain

Ketakutan terbesar saya seringkali saya alamatkan pada orang lain. Saya berpikir kalau orang lain adalah penyebab hal buruk yang saya alami. Dorongan alami dalam diri saya menganggap orang lain adalah sumber masalah.

Tapi bisa jadi permasalahan datang dari diri saya. Saya sebenarnya sumber masalahnya. Saya sulit mengakui kalau masalahnya ada pada diri saya. Lebih mudah menunjuk orang lain daripada menunjuk diri sendiri.

Penyebab stres

Stres wajar terjadi pada diri saya dan Anda. Itu bagian dari hidup.

Stres terjadi karena diri Anda secara mental, fisik, atau kognitif bereaksi terhadap ancaman atau tantangan yang dirasakan.

Ketika Anda stres, Anda mungkin merasa ada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Anda mungkin merasa punya tanggung jawab yang tidak sepenuhnya sanggup Anda tangani.

Apa penyebab stres? Persepsi Anda terhadap situasi-situasi yang Anda hadapi. Ini disebut sebagai pemicu stres (stressor): peristiwa-peristiwa yang membuat stres, seperti kehamilan, perceraian, kematian orang yang dicintai, dan pekerjaan.

Karena stres berasal dari persepsi maka cara mengatasi pertama kali bila Anda mengalami stres adalah mengubah persepsi.