Kreativitas dan optimisme

Kreativitas berhadapan-hadapan dengan apa yang sudah menetap, yang sudah menjadi pola. Tugas kreativitas adalah melihat hal itu secara berbeda. Tugas kreativitas adalah mendobrak yang mapan.

Bila melawan sesuatu yang sudah mapan tentu muncul rasa takut. Salah satunya adalah ketakutan apakah dapat menjadi sama baik dengan yang sudah ada.

Ini menunjukkan kalau kreativitas membutuhkan optimisme. Optimisme ini menjadikan orang yang melakukan tindakan kreatif lebih merasa aman terhadap apa yang dilakukannya, lebih memiliki pikiran terbuka, lebih memiliki harapan, lebih percaya terhadap talenta yang dimilikinya.

Ini juga seperti yang sudah dikatakan oleh Henri Matisse bahwa kreativitas membutuhkan keberanian.

Menyaring terlalu cepat

Masalah yang kita alami di tahap awal belajar atau bertindak untuk mencapai suatu tujuan adalah kita menyaring terlalu cepat. Kita tidak mempertimbangkan beragam pilihan. Kita membatasi kemungkinan-kemungkinan sejak awal.

Jeda #17

“What you have to do and the way you have to do it is incredibly simple. Whether you are willing to do it, that’s another matter.” *Peter F. Drucker

Jeda #16

“Logic will get you from A to B. Imagination will take you everywhere.” *Albert Einstein

Jeda #15

“We all have two lives. The second one starts when we realize we only have one.” *Confucius

Jeda #14

“Be yourself; everyone else is already taken.” *Oscar Wilde

Jeda #13

“We must not allow other people’s limited perceptions to define us.” *Virginia Satir

Jeda #12

“If you cannot do great things, do small things in a great way.” *Napoleon Hill

Jeda #11

"Good friends, good books and a sleepy conscience: this is the ideal life." *Mark Twain

Jeda #10

“Very little is needed to make a happy life; it is all within yourself, in your way of thinking.” *Marcus Aurelius

Dari mana gagasan diperoleh?

Gagasan datang dari permasalahan.

Gagasan datang dari alam semesta.

Gagasan datang dari pertemuan antara dua atau lebih hal-hal yang tidak saling berhubungan.

Jeda #9

“All life is an experiment. The more experiments you make the better.” *Ralph Waldo Emerson

Jeda #8

“I slept and dreamt that life was joy. I awoke and saw that life was service. I acted and behold, service was joy.” *Rabindranath Tagore

Kreativitas juga butuh waktu istirahat

Banyak orang kreatif yang saya kenal punya keinginan agar segala yang mereka kerjakan sempurna. Keinginan semacam itu pada titik tertentu menghabiskan semua perhatian mereka dan membuat mereka kelelahan.

Yang perlu dilakukan adalah belajar bagaimana agar mengelola energi kreatif. Ketika tidak ada gagasan yang muncul, pikiran seperti berputar tak menentu, mulai muncul kritik terhadap diri sendiri terus menerus, bahkan Anda kehilangan kenikmatan atau asyiknya mengerjakan karya Anda, itu tanda kelelahan.

Bila itu terjadi, berhentilah bekerja. Luangkan waktu untuk santai, tidur, atau sekadar berjalan-jalan.

Apa aktivitas dalam hidup Anda yang Anda nikmati tetapi Anda tidak harus bekerja atau tidak harus “produktif”? Boleh jadi dengan melakukan aktivitas tersebut, Anda akan menemukan keseimbangan.

Jeda #7

“When you encourage others, you in the process are encouraged because you're making a commitment and difference in that person's life. Encouragement really does make a difference.” *Zig Ziglar

Jeda #6

“Security is mostly a superstition. It does not exist in nature, nor do the children of men as a whole experience it. Avoiding danger is no safer in the long run than outright exposure. Life is either a daring adventure, or nothing.” *Helen Keller

Jeda #5

“Any idiot can face a crisis - it's day to day living that wears you out.” *Anton Chekhov

Masalah dengan tes yang terstandarisasi

Kemungkinan banyak hal yang dapat ditengarai menjadi permasalahan pada tes-tes yang terstandarisasi. Bagi saya yang pernah mengalaminya, ada dua, yaitu:

Pertama, tes semacam itu tidak mengakomodasi kapasitas selain nonverbal, seperti musik, gambar, atau kecekatan gerak. Kedua, tes semacam itu tidak punya kekuatan untuk memprediksi apa yang disebut sukses dalam kehidupan.

Jeda #4

“Life is not a problem to be solved, but a reality to be experienced.” *Soren Kierkegaard

Tak perlu khawatir

Dalam sebuah proses mencapai sesuatu, khawatir tidak berperan apa-apa, khawatir tidak mengubah hasil.

Khawatir dapat membuat Anda kehilangan fokus terhadap apa yang Anda lakukan dan hadapi.

Menggunakan waktu

Seberapa sering Anda melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak penting? Dan apakah itu Anda lakukan sebentar atau berjam-jam?

Kalau Anda dapat menyediakan waktu untuk melakukan aktivitas yang tak berguna, mengapa Anda tak dapat menyediakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat dan bermakna? Mengapa Anda tak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kedermawanan dan pembelajaran?

Jeda #3 Sumber informasi

Jeda #3.

Jeda #2

“Nobody made a greater mistake than he who did nothing because he could do only a little.” *Edmund Burke

Jawaban dan pertanyaan

Mana yang lebih penting: jawaban yang bagus atau pertanyaan yang bagus? Good answer or good question?

Keduanya sama-sama dibutuhkan karena menunjukkan bagaimana pikiran yang cerdas bekerja.

Kata yang tak memiliki makna

Berapa banyak kita menggunakan kata yang tak bermakna ketika menulis? Berapa banyak kita menggunakan kata yang tak bermakna ketika berbicara?

Kita harus berhenti berkomunikasi dengan kata-kata yang tak memiliki makna karena dapat mengaburkan apa yang seharusnya ingin disampaikan. Kecuali kalau memang itu yang ingin dilakukan.

Kata yang bermakna dapat memberi informasi mengenai konteks, efektif mengirimkan pesan, bahkan memberi isyarat apa yang ada di balik yang disampaikan.

Tidak mungkin dengan semua orang

Sulit rasanya menjalin hubungan antarpribadi (personal interactions) secara kuat dengan banyak orang. Anda hanya sungguh-sungguh dapat menjalinnya dengan orang-orang yang ingin mendengarkan dari Anda. Dengan orang-orang yang bersedia bercakap-cakap dengan Anda. Dengan orang-orang yang ketika Anda bertukar sesuatu dengan mereka, maka masing-masing sama-sama memperoleh makna dan manfaat.

Yang jadi tantangan kemudian adalah bagaimana membuat orang-orang yang sudah percaya terhadap Anda tersebut menyebarluaskan gagasan dan karya Anda kepada orang lain.

Belajar dari pembuat kue

Kalau kita belajar dari para pembuat kue, maka kita tidak hanya belajar tentang ilmu pengetahuan tetapi memahami proses secara teliti.

Kita tidak hanya belajar tentang sifat masing-masing bahan baku, teknik mengukur berapa lama pemanasan atau pendinginan, atau urutan pencampuran bahan. Kita tidak hanya mempelajari bagaimana melakukan semua itu, tetapi mengapa melakukannya.

Permainan yang tidak terbatas

Kalau Anda bermain dalam sebuah permainan yang tidak terbatas, peluang dapat datang dari arah mana saja. Karena itu, yang perlu Anda lakukan bukan memperoleh kemenangan lalu berhenti.

Anda harus terus berjalan dan terus memberi. Anda harus terus bermain.

Belajar dari peristiwa

Bila ada sebuah peristiwa dan kita punya kesempatan untuk mempelajari sesuatu dari peristiwa tersebut, apa yang kemudian terjadi pada diri kita?

Pertama. Kita tidak memberi tanggapan apa pun. Kita mengabaikan pelajaran yang ada pada peristiwa tersebut.

Kedua. Kita memperhatikan dan mengambil beberapa bagian saja dari peristiwa. Lalu kita mencari tahu proses yang berkaitan dengan sebab dan akibatnya.

Ketiga. Kita ingin tahu apa, bagaimana, dan mengapa sehubungan dengan keseluruhan peristiwa. Ini tentu membutuhkan waktu dan kesabaran.

Kepercayaan di era pemasaran digital

Di era pemasaran digital seperti sekarang, bagaimana Anda mengetahui siapa yang dapat dipercaya?

Yang memahami kekuatan interaksi personal; juga yang memahami dinamika dan pengaruh dari komunitas dan kesukuan atau rumpun (tribe).

Yang menghargai seni dan kemampuan bercerita (storytelling).

Yang mengutamakan transparansi, kedermawanan (generosity), dan hubungan jangka panjang.

Dunia jurnalistik perlu menyesuaikan diri

Dunia jurnalistik dan seluruh organisasi berita dari media arus utama menghadapi banyak tantangan, seperti perubahan dan perkembangan teknologi, tekanan finansial dari model bisnis yang dibuat, dan persaingan yang datang dari beragam sumber berita alternatif.

Apa saja yang perlu dilakukan? Berikut beberapa hal yang mungkin dapat dipertimbangkan:

Dengan munculnya banyak berita bohong, para jurnalis harus mempublikasikan konten secara cepat tetapi tidak boleh melakukan kekeliruan terhadap fakta-fakta yang disajikan.

Merekrut para jurnalis dan menempatkan para pemimpin senior dalam organisasi berita yang berasal dari latar belakang desain dan teknologi.

Para jurnalis membuat dan menyajikan konten melalui saluran-saluran yang terkait dengan dunia digital, seperti podcast dan video online.

Perusahaan media atau organisasi berita melibatkan lebih banyak suara kaum muda/remaja usia 15 hingga 21 tahun dengan memberi mereka kesempatan menyampaikan cerita mereka sendiri yang berhubungan dengan topik tertentu.

Menyediakan ruang lebih banyak terhadap opini atau suara pihak yang berposisi di tengah, bukan lagi pihak-pihak yang ada di kutub yang ekstrem (di kutub pro dan kontra).

Para jurnalis dan seluruh anggota organisasi berita perlu mengumpulkan, menganalisis, dan memahami bukti-bukti berbasis penelitian, khususnya yang terkait dengan psikologi sosial dari audiens media.

Karena berada di industri yang sama, perlu ada forum-forum bersama dari para jurnalis dan organisasi berita untuk saling belajar dan berbagi pengetahuan mengenai apa yang berhasil dan apa yang tidak secara terbuka.