Isu-isu tentang pelayanan kesehatan digital di masa depan (2025-2026)

Di satu sisi, bidang pelayanan kesehatan digital (digital healthcare) mengalami perkembangan yang pesat, tetapi sistem kesehatan menghadapi sejumlah masalah di antaranya adalah kekurangan tenaga kerja, meningkatnya harapan pasien, dan kebutuhan untuk mengadopsi teknologi baru secara bertanggung jawab. Di sisi lain, adanya percepatan dan pengembangan teknologi dalam AI, pemantauan jarak jauh, perangkat yang dapat dikenakan (wearable devices), dan pelayanan secara virtual memberi kesempatan baru untuk meningkatkan hasil, efisiensi, dan keterlibatan pasien.

Berikut beberapa post atau artikel yang membahas sejumlah isu yang berhubungan dengan masa depan dari pelayanan kesehatan digital (dimulai dengan apa yang menjadi trend pada tahun 2025 dan 2026).

***

Sara Siegel menulis:

Laporan Global Health Care Outlook 2025 dari Deloitte menyoroti beberapa hal berikut:

Kesetaraan akses: Hampir 90% eksekutif memperkirakan alat digital dan kesehatan virtual akan memengaruhi strategi pada tahun 2025, tetapi akses yang tidak merata terhadap perangkat dan broadband berarti sistem kesehatan harus memastikan semua pasien mendapatkan manfaat.

Tata kelola dan kepatuhan: Lebih dari 80% para eksekutif sistem kesehatan memperkirakan kalau AI generatif akan memiliki dampak signifikan atau moderat pada tahun 2025, dan pengawasan regulasi dianggap penting untuk memastikan keamanan, penggunaan etis, dan privasi data.

Fokus keamanan siber: Sekitar 78% para pemimpin sistem kesehatan menyebutkan bahwa peningkatan keamanan siber merupakan prioritas utama, yang mencerminkan pentingnya melindungi data pasien dan organisasi.

Keterlibatan karyawan & dokter: Teknologi dapat menghemat 13–21% waktu perawat, tetapi adopsi yang efektif membutuhkan pelatihan, perancangan ulang alur kerja, dan keterlibatan staf garis depan untuk memastikan solusi praktis dan meningkatkan pemberian pelayanan kesehatan.

Sumber:

2025 global health care outlook.

*** 

Anastasiya Kharyshkova menulis:

Industri pelayanan kesehatan sedang berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan digitalisasi. Namun, karena beban teknologi lama, batasan regulasi, dan lingkungan dari multipemangku kepentingan, digitalisasi kesehatan tidak sejalan dengan kebutuhan manusia di balik layar.

Pengalaman digital yang terfragmentasi di berbagai platform

Teknologi yang umum digunakan di bidang kesehatan terdiri dari perangkat lunak lama (legacy software), sistem yang datang dari pihak ketiga (third-party systems), dan alat digital baru yang tidak selalu menggunakan bahasa yang sama. Akibatnya, pengguna mengalami inkonsistensi ketika beralih dari sistem penagihan ke portal pasien dan kesulitan menavigasi aplikasi.

Penyedia pelayanan kesehatan, lebih dari siapa pun, harus beralih/berpindah-pindah menggunakan beberapa sistem yang yang berbeda, masuk berkali-kali, dan mengisi data yang sama. Pasien juga mengalami kekacauan UX karena pengalaman mereka sering kali sama terfragmentasinya. Mereka mungkin menjadwalkan janji temu di satu aplikasi, mengakses hasil di aplikasi lain, dan berkomunikasi di tempat lain.

Sumber:

UX design in healthcare: Challenges and trends shaping 2026.

***

Mihajlo Ivanovic menulis:

SEO untuk pelayanan kesehatan adalah salah satu cara paling andal untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan atau mendatangkan pasien baru.

SEO untuk pelayanan kesehatan adalah proses membantu platform kesehatan digital Anda, SaaS layanan kesehatan, atau situs web yang berfokus pada penyedia pelayanan kesehatan agar muncul ketika orang mencari informasi mengani gejala (symptoms), layanan, atau penyedia pelayanan kesehatan secara online. SEO bekerja dengan membuat situs Anda lebih mudah dipahami oleh mesin pencari dan lebih terpercaya bagi pasien.

Hal ini dicapai dengan meningkatkan konten Anda, memperkuat kredibilitas medis, menjawab pertanyaan pasien, dan memastikan persyaratan teknis terpenuhi, seperti kecepatan situs, UX, dan responsivitas seluler.

Jika dilakukan dengan baik, SEO untuk pelayanan kesehatan membantu klinik, praktik, atau blog Anda muncul lebih tinggi dalam hasil pencarian. Dengan cara ini, lebih banyak pencari dapat menemukan konten dan layanan Anda tepat pada saat mereka mencari pelayanan/perawatan.

Bagaimana SEO untuk pelayanan kesehatan berbeda dari SEO untuk industri yang ain?

SEO untuk pelayanan kesehatan mengikuti banyak prinsip yang sama dengan SEO secara umum. Konten berkualitas, optimasi teknis, UX, dan backlink penting, tetapi eksekusinya perlu mempertimbangkan beberapa nuansa.

Layanan kesehatan adalah salah satu kategori yang paling ketat diatur oleh Google — Your Money or Your Life (YMYL) — jadi strategi Anda harus fokus pada akurasi medis dan keselamatan pasien.

Berikut beberapa perbedaan utama yang harus Anda ingat:

Standar YMYL: Google menerapkan pengawasan ekstra pada konten medis karena dapat secara langsung memengaruhi kesehatan seseorang.

Persyaratan E-E-A-T: Konten Anda harus menunjukkan keahlian medis nyata, kredensial, kutipan, dan pengawasan klinis (real medical expertise, credentials, citations, and clinical oversight).

Kebutuhan kepatuhan: Tidak semua situs web pelayanan kesehatan yang sukses membutuhkan kepatuhan HIPAA, tetapi jika situs Anda menangani data pasien, ini adalah hal lain yang perlu Anda perhatikan.

Tujuan lokal: Sebagian besar pasien mencari pelayanan yang dekat dengan mereka, sehingga SEO lokal sangat penting bagi penyedia layanan dan bisnis multi-lokasi.

Jenis konten yang kompleks: Situs web layanan kesehatan sering kali terdiri dari halaman kondisi (condition pages), halaman pelayanan (treatment pages), biografi penyedia layanan, FAQ medis, dll., yang masing-masing membutuhkan pendekatan SEO yang berbeda.

Sumber:

Healthcare Website SEO: A Marketing Leader’s Blueprint for Ranking and Compliance.

***

Sergiy S. menulis:

Beberapa contoh inovasi yang mewakili pergeseran mendasar dalam kesehatan digital masa depan. Salah satunya adalah:

Terapi digital generasi berikutnya (DTx)

Terapi digital [digital therapeutics (DTx)] bertransformasi dari sekadar aplikasi mindfulness menjadi intervensi berbasis bukti untuk diabetes, depresi, penyalahgunaan zat, dan banyak lagi. Keseimbangan antara ketelitian klinis dan desain perilaku sangat penting untuk memperkuat adopsi yang mudah dan keterlibatan yang bermakna.

Meskipun tidak akan menggantikan pengobatan tradisional dalam waktu dekat, antarmuka DTx dapat memberikan pelayanan kesehatan untuk penyakit kronis secara lebih efektif dengan menjaga motivasi pasien dalam jangka panjang.

Sumber:

Top 12 digital healthcare UX trends for 2026: AI, interoperability, accessibility, voice tech

***

Evan Davey menulis:

Trend 1: UX shifts from frictionless to trustworthy

Studies show that patients are surprisingly comfortable engaging with AI… when the interaction feels nonjudgmental.

For example, a 2023 JAMA Network Open study found patients disclosed sensitive information (such as alcohol use or medication non-adherence) more frequently to conversational AI than to clinicians, citing reduced fear of judgment.

But that trust is fragile. As soon as an AI moves from “listening” to advising, patients want to understand why the system is recommending a specific action.

That’s where explainable UX becomes essential. This UX preserves the sense of safety that made patients candid in the first place. Without explainability, the trust advantage quickly evaporates.

What trust-centered UX looks like

For patients:

Care recommendations that explain why they’re being made.

Risk alerts that reference lab trends, symptoms, or wearable data.

Transparent reasoning embedded in patient-facing tools.

For clinicians:

Clinical decision support that highlights the exact data points behind a recommendation.

Audit trails that make AI outputs reviewable and defensible in documentation.

Tools that supplement—not replace—clinical judgment.

#Terjemahan bahasa Indonesia

Tren 1: Pergeseran UX dari tanpa hambatan menjadi dapat dipercaya

Studi menunjukkan bahwa pasien merasa nyaman berinteraksi dengan AI, ketika interaksi terasa tidak menghakimi.

Misalnya, sebuah studi JAMA Network Open tahun 2023 menemukan bahwa pasien lebih sering mengungkapkan informasi sensitif (seperti penggunaan alkohol atau ketidakpatuhan pengobatan) kepada AI percakapan daripada kepada dokter, dengan alasan berkurangnya rasa takut dihakimi.

Namun kepercayaan itu rapuh. Begitu AI beralih dari "mendengarkan" ke memberi nasihat, pasien ingin memahami mengapa sistem tersebut merekomendasikan tindakan tertentu.

Di situlah UX yang dapat dijelaskan menjadi penting. UX ini mempertahankan rasa aman yang membuat pasien berani berterus terang sejak awal. Tanpa kemampuan menjelaskan, keuntungan kepercayaan akan cepat hilang.

Seperti apa UX yang berpusat pada kepercayaan itu?

Untuk pasien:

Rekomendasi pelayanan kesehatan yang menjelaskan mengapa rekomendasi tersebut diberikan.

Peringatan risiko yang merujuk pada tren laboratorium, gejala, atau data perangkat yang dapat dikenakan.

Penalaran transparan yang tertanam dalam alat yang digunakan pasien.

Untuk dokter:

Dukungan pengambilan keputusan klinis yang menyoroti poin data yang tepat di balik suatu rekomendasi.

Jejak audit yang membuat output AI dapat ditinjau dan dipertanggungjawabkan dalam dokumentasi.

Alat yang melengkapi—bukan menggantikan—penilaian klinis.

Sumber: 
2026 healthcare trends: Trust, AI, and the workforce. https://www.deptagency.com/insight/2026-healthcare-trends-trust-ai-and-the-workforce/

Post ini diperbarui 2 Januari 2026, pukul 22.22.